Ngopi Sudah Jadi Kebiasaan, Kedai Tumbuh Tiga Kali Lipat — dan yang Tumbuh Paling Cepat Sekarang Ada di Trotoar
Pertanyaan yang jarang diajukan di industri kopi Indonesia bukan “apakah pasar tumbuh” — semua orang tahu ia tumbuh. Pertanyaan yang tepat: di segmen mana pertumbuhan itu terjadi, seberapa cepat, dan apa artinya bagi masing-masing pelaku?
Saya mulai dari angka yang paling sering dikutip dan paling jarang dicerna. Kementerian Perindustrian mencatat konsumsi kopi nasional 2025 mencapai 288 ribu ton, setara 1,03 kg per kapita, dengan proyeksi pertumbuhan pasar 3,61 persen per tahun hingga 2029. Angka itu terdengar administratif. Tapi ada satu hal menarik di baliknya: 288 ribu ton itu penyerapan domestik murni — dan mengingat laporan kami sebelumnya, permintaan domestik inilah salah satu faktor yang menahan harga di hulu tetap tinggi saat harga global turun. Pasar dalam negeri sudah bukan pelengkap ekspor. Ia fondasi.
Sekarang ke perilaku konsumen, karena pasar bukan angka — pasar adalah kebiasaan.
Survei Jakpat 2025 terhadap 1.002 responden menemukan bahwa 46 persen konsumen minum kopi setiap hari. Bukan setiap minggu. Setiap hari. Waktu favoritnya bukan pagi hari seperti stereotip Barat, melainkan sore (35 persen) dan setelah sarapan (34 persen). Dan tujuan utamanya berkumpul serta mengobrol (44 persen), bukan sekadar mencari kafein untuk fokus (34 persen).
Ini detail kecil yang penting. Kopi sudah menjadi infrastruktur sosial — tempat bertemu, alasan berkumpul, pengisi jeda. Tapi perlu hati-hati di sini: kebiasaan ngopi sore di kedai dengan teman, dan kebiasaan menyeduh kopi instan di rumah sebelum berangkat kerja, adalah dua kebiasaan yang berbeda — beda tempat, beda fungsi, dan tidak saling menggantikan. Survei Jakpat memang mencatatnya dalam satu tabel preferensi produk: kopi susu instan dikonsumsi rutin oleh 53 persen responden, kopi hitam instan 43 persen, es kopi susu dari kafe 28 persen. Angka-angka ini sering dibaca seolah ada “tangga” — dari instan naik ke kafe. Saya justru tidak membaca begitu. Tiga angka itu menggambarkan tiga kesempatan minum yang berbeda, bukan tiga tingkat kedewasaan konsumen. Ada pasar rumah, ada pasar kedai, dan keduanya besar dengan caranya sendiri.
Dan pasar kedai sendiri sedang berubah bentuk.
Kemenperin mencatat jumlah kedai kopi tumbuh hampir tiga kali lipat dalam tiga tahun terakhir — ditopang struktur demografi yang ekstrem, di mana lebih dari 53 persen penduduk Indonesia adalah Gen Z dan milenial. Tapi di dalam kanal racikan barista itu sendiri, muncul sub-kanal yang tumbuh paling cepat saat ini: kopi keliling modern.
Survei Cimigo Oktober 2025 — 247 responden, sampel kecil tetapi tajam — menunjukkan 49 persen konsumen kopi racikan barista, dan di antara mereka pembelian rata-rata 4,5 kali per minggu. Untuk kanal khusus kopi racikan: coffee shop masih utama (88 persen), minimarket 48 persen, dan kopi keliling modern 47 persen.
Satu catatan kehati-hatian sebelum angka itu dibaca lebih jauh: kopi keliling bukan pengganti coffee shop. Orang yang ngopi sambil meeting dua jam di kedai tidak pindah ke trotoar; sebaliknya, konsumen yang butuh kopi racikan cepat di perjalanan sering tidak sempat masuk kedai. Kopi keliling melayani kesempatan minum yang selama ini tidak terlayani — bukan mencuri pelanggan dari kedai. Keduanya tumbuh di kesempatan yang berbeda.
Lalu mengapa kopi keliling bisa tumbuh secepat itu? Jawabannya tidak soal rasa. Alasan terkuat konsumen memilihnya adalah ketersediaan — 95 persen. Lalu harga terjangkau (82 persen), kepraktisan (77 persen), dan rasa baru di urutan keempat (51 persen). Urutan ini menarik: ditemukan, murah, cepat — baru kemudian enak.
Bagi operator kopi keliling, maupun roastery dan supplier yang memasok mereka, implikasinya langsung. Bahan baku harus konsisten dari batch ke batch, resep cepat dieksekusi, dan margin bertahan pada harga jual terjangkau. Blend profil cokelat-kacang-karamel yang stabil saat dipadukan susu bukan lagi soal gaya — ia kebutuhan segmen. Paket B2B berisi roasted bean, resep standar, dan pelatihan menjadi produk tersendiri. Dan harga bertingkat antar segmen (kafe, kopi keliling, ritel) perlu dipikirkan sejak awal, karena sensitivitas harganya berbeda.
Sebagai catatan metodologis — penting dibaca sebelum mengutip: data Kemenperin adalah statistik industri nasional, sedangkan Jakpat dan Cimigo adalah survei konsumen dengan sampel terbatas (1.002 dan 247 responden). Angka survei tepat untuk membaca arah perilaku, bukan untuk mengestimasi populasi. Untuk keputusan investasi, survei ini perlu dilengkapi data primer.
Kesimpulan
Pasar kopi Indonesia tumbuh bukan karena orang Indonesia berganti selera, melainkan karena ngopi makin rutin — dan tiap kesempatan minum punya kanalnya sendiri. Konsumen rumah tetap setia pada instan. Konsumen kedai tetap datang untuk kumpul. Dan konsumen di perjalanan kini punya opsi racikan barista yang dulu tidak ada. Yang berubah bukan siapa yang menang, melainkan berapa banyak kesempatan ngopi yang kini bisa dilayani.
Sumber dan referensi:
• Kementerian Perindustrian RI — konsumsi 288 ribu ton (1,03 kg per kapita, 2025), proyeksi 3,61% (2024–2029), produksi kopi olahan 1,04 juta ton, ekspor 196,8 ribu ton (USD 661,9 juta) — https://www.kemenperin.go.id/ • Survei Jakpat 2025 (1.002 responden) — frekuensi, waktu, dan preferensi konsumsi kopi — https://jakpat.net/ • Survei Cimigo Oktober 2025 (247 responden) — kanal kopi racikan barista dan perilaku kopi keliling modern — https://www.cimigo.com/ • Data BPS via Kemenperin — struktur demografi Gen Z & milenial (2020) — https://www.bps.go.id/Data dan analisis lanjutan: https://kabarkopi.qcoid.com/